Pages

Sabtu, 24 November 2012

Kebahagiaanku Seharian Penuh


Pagi itu, 12 September 2012 aku terbangun oleh teriakan abangku yang menyuruhku cepat bangun. Kulihat jendela masih sangat gelap, aku hapal betul waktuku bangun untuk mandi lalu bergegas ke sekolah itu saat langit sudah mulai berwarna biru. Kulihat juga jam di iPadku, disana menunjukan pukul 00:05. Jelas saja aku menolaknya dan bilang “iya bang nanti sebentar lagi, ini masih gelap banget”. Tapi, perkataanku tidak dihiraukan sama sekali olehnya, dia malah terus menggoncang-goncangkan tubuhku. Dari luar kamar terdengar suara papah yang samar-sama “abang cepet!” dan tanpa pikir panjang abangku langsung menarikku. Ya, mau tidak mau aku harus membuka mataku.
Saat aku membuka mataku papah langsung mencium keningku dan berkata “Happy birthday sayang. kamu udah tambah tua lho, jangan suka ribut-ribut lagi ya sama adik ataupun abang kamu” aku hanya membalasnya dengan senyum lebar dibibirku. Mamah dan adikku juga naik ke lantai dua rumahku sambil bernyanyi dan membawa sebuah kue tart berukuran sedang. Papah pun memulai doa ucapan terimakasihnya karena pada hari itu usiaku bertambah. Aku bahagia, terharu, serta sangat berterima kasih kepada Tuhan karena aku bisa mendapatkan keluarga kecil yang sangat menyayangi aku. Aku tahu papah, mamah, serta abangku itu bukan orang yang punya banyak waktu untuk dibuang-buang.
Singkat cerita, kita semua melanjutkan tidur disisa waktu pagi kita. Alarm dari handphone papah, mamah, serta abang pun berbunyi. Papah mulai mandi, lalu abang, baru setelah itu giliran aku yang mandi. Sedangkan mamah langsung ke dapur untuk membuatkan kami sarapan. Dan adikku, dia masih tertidur dengan damai karena sekolahnya masuk siang. Handphone-ku terus berbunyi karena mendapatkan pesan singkat, aku buka dan membacanya ternyata itu dari seseorang yang special untukku, dia Zanuri. Di Pesan itu dia berkata “Aku mau pamit, ternyata latihan persijatim di Bandungnya dimajuin jadi hari ini.” aku merasa kesal karena ia tidak bisa menemaniku dihari bertambahnya usiaku ini. Aku badmood dan sepanjang hari pesan singkat darinya hanya aku balas dengan sesingkat-singkatnya.
Sesampainya di sekolah, temanku Lissa menyapaku dengan senyumnya dan berkata “Happy birthday herna! panjang umur, sehat terus, tambah pinter tambah cantik ya na” aku membalasnya dengan memeluknya “iya Lissa, amin, makasih”. Aku melanjutkan langkahku dan bertemu dengan banyak teman-temanku yang juga memberiku ucapan selamat ulang tahun. Aku juga mengundang teman-temanku agar nanti sore bisa datang kerumahku, tapi jawaban dari mereka tidak ada yang pasti. Aku jadi merasa agak malas karena itu.
Waktu pulang sekolah tiba, aku pulang secepat-cepatnya saat bel tanda pulang berbunyi. Aku sangat takut kalau-kalau kejadian seperti setahun yang lalu menimpaku lagi. Sesampainya dirumah aku langsung berganti baju dan bergegas untuk segera berangkat les. Waktu untuk pulang les pun tiba, aku langsung mengendarai sepeda motorku menuju rumah tanteku dan menjemputnya agar ia bisa membantu mamah memasak untuk acara nanti sore.
Pukul empat sore tepat teman rumahku tiba-tiba datang dan membawakanku sebuah kue tart sambil membawa sebuah karton yang intinya bertuliskan “Selamat ulang tahun”. Bertambah-tambahlah rasa bahagiaku pada hari itu. 
Saat pukul enam sore, datanglah dua teman sekolahku yang cukup dekat denganku. Dia adalah Gilang dan Jascha. Setibanya diumahku, ia memberikanku ucapan selamat ulang tahun dan meledekku “Na, laper nih. Makannya sekarang aja hehe” mamahku pun dengan sigap mengeluarkan makanan yang sudah dibuat olehnya tadi. Tak lama setelah mereka berdua pulang, dua sahabatku tiba-tiba muncul. Mereka adalah Vedra dan Rizka, aku terkejut karena tadinya mereka bilang bahwa mereka tidak akan bisa datang kerumahku. Aku keluar rumah dan melongok keluar pintu, bertambah lagilah rasa terkejutnya karena ternyata Zanuri ada disana. Aku jadi malu sendiri karena aku sudah marah padanya seharian penuh.
look.... horor ye kan jadinya-_-
Tiba-tiba sebuah telur mendarat dikepalaku, satu, dua, dan terus entah sampai berapa banyak. Kepalaku juga ditaburi tepung terigu oleh mereka. Tak cukup sampai disitu, dua kue tart kecil yang tadi mereka bawa pun juga menjadi alat untuk mengerjaiku. Aku hanya bisa pasrah saat itu.
Setelah aku selesai mandi aku duduk disamping Zanuri dan meminta maaf karena seharian penuh sudah marah padanya. Tapi dia hanya tertawa girang dan meledekku. Sambil memberikanku sebuah kado dia berkata “iya aku maklumin ko, aku tau pasti badmood banget jadi kamu. Oia, Happy Birthday! Maaf aku ngerjain kamu hari ini haha. Tambah pinter, tambah cantik, tambah sayang sama aku ya hehe” aku sangat malu dan hanya bisa mengucapkan terima kasih sekenanya. Teman-temanku menyuruhku untuk membuka kadonya, dan saat aku buka… ternyata dia memberikanku sebuah jersey yang aku inginkan. Aku juga mendengar cerita teman-teman saat dia berkeliling ITC hanya untuk mencari sebuah kado untukku itu. Hadir juga Zidan serta Septian adik kelasku  kerumahku. Setelah mereka semua makan kita semua berbincang sebentar. Waktu sudah semakin malam, mereka pun pamit kepadaku serta mamahku untuk pulang.
Aku sangat berterimakasih kepada Tuhan karena selain pada hari itu usiaku bertambah, aku punya sebuah keluarga kecil yang sangat menyayangiku, dan juga aku mempunyai sahabat serta teman-teman yang peduli kepadaku.